Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, memiliki banyak tempat suci yang dilengkapi ritus-ritus purba. Sebut, misalkan, Pura Penataran Sasih, Pura Kebo Edan, atau Pura Pusering Jagat. Di antara situs-situs tua itulah berdiri Pura Pangukur-ukuran. Lokasinya di Desa Pakraman Sawagunung, Desa Pejeng Kelod. Pura ini mudah dicapai dengan semua jenis I kendaraan dan dapat dicapai melalui 3 jalur yaitu : dari selatan melalui belokan Dusun Wanayu terus ke Pejeng Klod ke utara. Dari Desa Pejeng ke timur dan dari utara yaitu melalui Dusun/Br. Mancawarna Desa Sanding ke selatan. Jarak dari Denpasar ± 30 Km dan dari Gianyar ± 11 Km. Beragam kisah dapat dicermati dari keberadaan pura di tepi Tukad Pakerisan ini. Mulai dari jenis palinggih (bangunan suci) hingga tinggalan purbakala yang tersimpan di dalamnya.
Sejarah pura pengukuran Tradisi lisan di Pejeng dan sekitarnya menyebutkan, pura berluas 2 ha ini konon menjadi tempat para raja Bali Kuno mengukur tanah Bali. Termasuk mencari tempat yang cocok buat membangun pura pusat. Kemudian dari Pura Manik Corong, di Desa Pejeng, membidik daerah yang cocok dibangun Pura Basukian. Ada perkira-kiraan semula sang raja hendak membangun Pura Basukian (Besakih) di sebelah utara areal Pura Pangukur-ukuran. Di lokasi ini hingga kini ada peninggalan berupa tanah lapang berdasar batu padas seluas 150 m2. Konon setelah melalui berbagai pertimbangan, di antaranya lokasi pura terlalu di tengah, kurang menunjuk arah timur laut, keinginan membangun Pura Basukian di areal Pura Pangukur-ukuran pun tak dilanjutkan. Kawasan pinggang Gunung Agung (kini bernama Desa Besakih), menjadi pilihan membangun Pura Basukian. “Itu sebab antara Pangukur-ukuran dengan Manik Corong memiliki hubungan erat,” kisah Jero Mangku Dewa Gede Rauh, Pamangku Pamucuk Pura Pangukur-ukuran.
Selain dengan Pura Manik Corong, Pura Pangkur-ukuran juga bertalian dengan Pura Tirta Mangening, Pura Gunung Kawi, dan pura lain di sepanjang Tukad Pakerisan. Hubungan terjadi tak lepas dari berbagai peninggalan yang ada. Sumber air yang melewati Tukad Pakerisan juga berasal dari Tirta Mangening di hulunya. Pura ini juga terkait dengan Pura Samuan Tiga, di Banjar Marga Bingung, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh. Konon usai para raja menentukan lokasi pembangunan Pura Basukian dan Pura Pusering Tasik, semua raja akhirnya berkumpul di Pura Samuan Tiga, merembugkan rencana menata Bali secara utuh dan menyeluruh.
Ada mitos di dalam masyarakat Gianyar bahwa pusat dunia berada d Desa Pejeng, Gianyar, maka dengan cekatan mereka akan mengatakan bahwa di Pura Pusering Jagat lah tempatnya. Bagi mereka di Pura Pusering Jagat lah awal mula kehidupan dan peradaban dunia. Keyakinan itu kemungkinan besar karena Pusering Jagat memang berarti pusat semesta
Di masyarakat bali yg dominan beragama Hindu mereka percaya bahwa setiap Pura Atau tempat suci mempunyai perannya sendiri sendiri.khusus untuk Pura Pusering Jagat memang merupakan pura penting di Bali. Pura ini termasuk satu dari enam pura kahyangan jagat yang berposisi di tengah-tengah. Dalam kosmologi Hindu, tengah adalah sthana (tempat bersemayam) Dewa Siwa.
Baca selengkapnya »
Setara dengan Zaman Dongson di Negeri Cina Pura Penataran Sasih merupakan salah satu pura yang memiliki jejak sejarah yang sangat panjang. Pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Intaran, Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar ini juga lebih banyak diketahui dari berbagai mitos yang ada. Salah satunya adalah ''bulan Pejeng'' di Pura Penataran Sasih. Nekara perunggu berukuran 186,5 cm ini ada yang dikaitkan dengan Kebo Iwa, seorang Mahapatih Kerajaan Bali Kuno sebagai subang (anting-anting), yang konon dikalahkan oleh Gajah Mada dengan taktik licik guna menguasai Bali. Selain itu, keberadaan nekara perunggu tersebut dikaitkan dengan mitos keberadaan ''bulan Pejeng'' tersebut dengan kisah kencing maling meguna.
Pura penataran sasih dapat d tempuh melalui jalan darat kira2 satu setengah jam dari airport ngurah rai Selain itu, untuk Pura Penataran Sasih hingga saat ini juga belum mempunyai purana.
Baca selengkapnya »
Pura ini terletak hanya beberapa meter di sebelah utara Patung Arjuna Bertapa. Secara administratif Pura Kebo Edan berada di wilayah Dusun Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, tepatnya perbatasan antara dua desa yaitu desa Bedulu dan desa Pejeng. Jarak dari Kota Gianyar ke lokasi kurang lebih 5 km, jarak dari lokasi ke kota Denpasar kurang lebih 26 km. Pura ini sangat mudah dikenali karena berdekatan dengan Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali. Lokasi sekitar pura terdiri atas areal persawahan dan pemukiman penduduk desa Pejeng (dusun Intaran). Di bagian selatan dan barat komplek Pura Kebo Edan terdapat selokan (saluran air sawah) dan persawahan subak Bedulu. Di bagian utara pura terdapat areal persawahan subak pegending. Bagian timur dibatasi oleh jalan raya (jalan aspal) dan perumahan penduduk. Dari jalan raya kita dapat menjangkau pura dengan berjalan kaki kurang lebih 50 meter kearah barat, maka akan tiba di pelataran.
Baca selengkapnya »
Anahata mulai beroperasi pada November 2004. Dan didirikan dengan visi menjadi mundur alami untuk pikiran, tubuh dan jiwa. Nama Anahata berasal dari sebuah kata Sansekerta, yang berarti cinta, kasih sayang dan keharmonisan dalam Yoga. Ini menandakan sebagai chakra jantung pusat energi yang terletak di kawasan jantung.
Baca selengkapnya »
Sejarah dari museum gedung arca (museum Arkeologi) adalah site museum yang dalam pengelolaannya merupakan bagian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali Wilayah Kerja Provinsi Bali, NTB, dan NTT (Bp3 Bali). Sejarah pendirian museum bermula dari gagasan Prof. Dr. R. P. Soejono dan Drs. Soekarto K. Atmojo mantan Kepala Dinas Purbakala Bali untuk memanjangkan / memamerkan benda cagar budaya (BCB) yang telah berhasil dilestarikan sejak berdirinya Jawatan Purbakala tahun 1950.Museum Arkeologi dengan koleksi unggulan berupa benda cagar budaya dari masa prasejarah dan sejarah yang seluruhnya berasal dari hasil pelestarian di wilayaah Provinsi Bali, secara resmi dibuka oleh Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 14 September 1974
Baca selengkapnya »
Anda pasti mengetahui bahwa di bali ini disebut juga sebagai pulau seribu pura asal usulnya adalah karena di bali ini hampir dari ujung timur sampai barat dan sebaliknya dari utara sampai selatan berjejer pura – pura itu disebabkan karena kepercayaan masyarakat di bali ini akan percaya bahwa Tuhan atau sering dikenal oleh masyarakat Bali Ida Sang Hyang Widhi itu berada dimana - mana. Hampir dipelosok – pelosok pulau Bali ditemukan sebuah pura. Tepatnya daerah Tampaksiring terdapat pura yang letaknya sangat berdekatan dengan pura Tirta Empul. Nama Pura ini adalah Pura Candi mengening. Tampaksiring terletak di daerah Gianyar sebelah timur Denpasar dari airport ngurah rai bisa di tempuh melalui darat kurang lebih satu setengah jam, ada punasal usul kenapa bisa disebut Pura Candi Mengening karena di dalam pura tersebut terdapat sebuah pura dengan diatas nya terdapat candi yang cukup besar.
Baca selengkapnya »
Langganan:
Postingan (Atom)




